makalah metode tatabahasa dan terjemahan

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1              Latar Belakang

Untuk melengkapi pengetahuan yang didapatkan pada mata kuliah Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia sudah selayaknya kita mengenal Metode Tata Bahasa dan Terjamah. Metode Tata Bahasa dan Terjamah bertujuan untuk mengenalkan pembaca bahwa Metode Tata Bahasa dan Terjamah sangat bermaanfaat bagi guru sebagai cara untuk mengajar.

            Adapun tujuan pembuatan makalah yang berjudul Hakikat Membaca dan KEM(Kecepatan Efektif Membaca) ini adalah :

1.      Untuk mengenal secara umum Metode Tata Bahasa

2.      Untuk mengenal secara umum Metode Terjamah

 

1.2              Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat disajikan rumusan masalah. Bagaimanakah Metode Tata Bahasa dan Terjamah.

1.3              Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, dapat dirumuskan tujuan dari makalah ini adalah Agar penulis dapat mengetahui secara umum Metode Tata Bahasa dan Terjamah serta dapat memperkenalkan secara umum tentang Metode Tata Bahasa dan Terjamah kepada pembaca

 

1.4              Manfaat Penulisan

Agar penulis dapat memahami secara umum tentang Metode Tata Bahasa dan Terjamah dan dapat berbagi pengetahuan secara umum tentang Metode Tata Bahasa dan Terjamah kepada pembaca

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Metode Tata Bahasa.

 2.1.1 Pengertian Metode Tata Bahasa

                      Merupakan ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang mengatur penggunaan bahasa. Tatabahasa Indonesia telah diatur dalam buku Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI). Kualitas penerapan Tatabahasa yang tepat dan benar masih sangat rendah, hal ini terbukti seperti yang dipraktikan oleh bangsa Indonesia di media massa maupun pada kehidupan nyata.

      Semua tatabahasa tradisional tidak menempatkan Fonologi sebagai satu unsur dari Tatabahasa. Biasanya dikatakan bahwa Tatabahasa hanya melingkupi bidang-bidang Morfologi dan Sintaksis. Fonologi dianggap sebagai suatu pengetahuan praktis untuk kesempurnaan penyebutan/pengucapan  suatu bahasa. Pendapat ini tidak dapat diterima lagi, karena Fonologi suatu bahasa bukan bersifat praktis seperti yang dikatakan, tetapi benar-benar merupakan suatu unsur yang hakiki dari bahasa itu. Setiap bahasa mempunyai kaidah-kaidah tertentu tentang susun-peluk bunyi-bunyi ujrannya. Struktur susun-peluk bunyi-bunyi ujaran seperti dalam bahasa Cekoslowakia tidak ada dalam struktur bahasa Indonesia, karena tiap-tiap bahasa mempunyai kaidah-kaidah yang tersendiri. Tata susun bunyi ujaran suatu bahasa juga merupakan satu struktur dari bahasa yang bersangkutan.

                  Tatabahasa merupakan suatu himpunan dari patokan-patokan umum berdasarkan struktur bahasa. Struktur bahasa itu meliputi bidang-bidang: tata bunyi, tata bentuk dan tata kalimat. Atau dengan kata lain tatabahasa meliputi bidang-bidang: Fonologi, Morfologi dan Sintaks.

2.1.2 Tatabahasa modern mencakup:

          Tatabahasa modern mencakup:

A.    Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan fonem sebuah bahasa dan distribusinya. Fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum. Istilah fonologi, yang berasal dari gabungan kata Yunani yaitu phone berarti bunyi danlogos berarti ilmu, disebut juga tata bunyi. Bidang ini meliputi dua bagian:

1)      Fonetik atau fonetika adalah bagian ilmu dalam linguistik yang mempelajari bunyi yang diproduksi oleh manusia. Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafazkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia,terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa, terdiri dari huruf vokal, konsonan, diftong (vokal yang ditulis rangkap) dank kluster (konsonan yang ditulis rangkap. Di sisi lain fonologi adalah ilmu yang berdasarkan foneyik dan mempelajari system fonetika. Fonetika memiliki tiga cabang utama:

Fonetik artikulatoris yang mempelajari bentuk dan gerakan bibir, lidah dan organ-organ manusia lainnya yang memproduksi suara atau bunyi bahasa.

Fonetik akustik yang mempelajari gelombang suara dan bagaimana mereka didengarkan oleh telinga manusia

Fonetik auditori yang mempelajari persepsi bunyi dan terutama bagaimana otak mengolah data yang masuk sebagai suara.

Internasional Phonetic Asociation (IPA) telah mengamati lebih dari 100 bunyi manusia yang berbeda dan menstransipsikannya dengan Internasional Phonetic Alphabet mereka.

Ilmu fonetika pertama kali dipelajari sekitar abad ke5 SM di India kuno oleh Panini, sang resi yang mempelajari Bahasa Sansekerta. Semua aksara yang berdasarkan aksara India sampai sekarang masih menggunakan klasifikasi Panini.

2)      Fonemik, yaitu bagian fonologi yang mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti. Bunyi ujaran yang bersifat netral, atau masih belum terbukti membedakan arti disebut fona, sedangkan fonem ialah satuan bunyi ujaran terkecil yang membedakan arti. Variasi fonem karena pengaruh lingkungan yang dimasuki disebut alofon. Gambar atau lambang fonem dinamakan huruf. Jadi fonem berbeda dengan huruf.

Untuk menghasilkan suatu bunyi atau fonem, ada tiga unsur yang penting yaitu:

         udara

         artikulator atau bagian alat ucap yang bergerak

         titik artikulasi atau bagian alat ucap yang menjadi titik sentuh artikulator

3)      Morfologi secara harfiah berarti pengetahuan tentang bentuk. Morfologi adalah bidang linguistik atau tatabahasa yang mempelajari kata dan proses pembentukan kata secara gramatikal. Dalam beberapa buku tata bahasa, morfologi dinamakan juga tata bentukan.Satuan ujaran yang mengandung makna (leksikal atau gramatikal) yang turut serta dalam pembentukan kata atau yang menjadi bagian dari kata disebut morfem. Berdasarkan potensinya untuk dapat berdiri sendiri dalam suatu tuturan, morfem dibedakan atas dua macam yaitu:

a.       Morfem terikat, morfem yang tidak mempunyai potensi untuk berdiri sendiri, sehingga harus selalu hadir dengan mengikatkan dirinya dengan morfem bebas lewat proses morfologis, atau proses pembentukan kata.

b.      Morfem bebas, yang secara potensial mampu berdiri sendiri sebagai kata dan secara gramatikal menduduki satu fungsi dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia morfem bebas disebut juga kata dasar. Satuan ujaran seperti buku, kantor, arsip, uji, ajar, kali, pantau, dan liput merupakan morfem bebas atau kata dasar; sedangkan me-, pe-, -an, ke–an, di-, swa-, trans-, -logi, -isme merupakan morfem terikat. Sebuah morfem, jika bergabung dengan morfem lain, sering mengalami perubahan. Misalnya, morfem terikat me- dapat berubah menjadi men-, mem-, meny-, menge-, dan menge- sesuai dengan lingkungan yang dimasuki. Variasi morfem yang terjadi karena pengaruh lingkungan yang dimasuki disebut alomorf.

4)      Sintaksis berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu syn berarti bersama dan taxis berarti pengaturan. Sintaks adalah ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat. Selain aturan ini juga digunakan untuk merujuk langsung pada peraturan dan prinsip yang mencakup struktur kalimat dalam bahasa apapun.

         Penelitian modern dalam sintaks bertujuan untuk menjelaskan bahasa dalam aturan ini. Banyak pakar sintaksis berusaha menemukan aturan umum yang diterapkan disetiap bahasa. Kata sintaksis juga kadang digunakan untuk merujuk pada aturan yang mengatur sistem matematika seperti logika, bahasa formal buatan dan bahasa pemrograman komputer.

5)      Semantik diambil dari bahasa Yunani semantikos yang berarti memberikan tanda. Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain. Semantik biasanya dikontraskan dengan dua asapek lain dari ekspresi makna; sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragamatika, penggunaan praktis simbol oleh agen atau komunitas pada suatu kondisi atau konteks tertentu.

 

 

 

2.1.3 Macam – Macam Tata Bahasa

  • Tatabahasa Deskriptif atau Tatabahasa Sinkronis adalah tatabahasa yang disusun berdasarkan pencatatan (deskripsi) yang nyata atas struktur suatu bahasa. Tatabahasa ini biasanya meliputi suatu lingkungan masa yang tertentu (sinkronis). Sebaliknya Tatabahasa Historis-komparatif atau Tatabahasa Diakronis adalah tatabahasa yang membicarakan perkembangan struktur bahasa dari satu jaman ke jaman lain (historis atau diakronis), serta mengadakan pula perbandingan antara struktur-struktur bahasa dari bermacam-macam jaman itu atau memperbandingkannya denngan bahasa-bahasa lainnya (komparatif).
  • Di samping itu tatabahasa dapat bersifat Normatif (umum) yaitu bila tatabahasa tersebut disusun berdasarkan gejala-gejala bahasa yang umum yang dipakai oleh kebanyakan orang dalam suatu masyarakat. Jenis tatabahasa inilah yang dipakai dalam penertian sehari-hari.

 

2.2 Metode Terjemahan

2.2.1 Pengertian Metode Terjemahan

Metode terjemahan adalah metode yang banyak dipakai dalam pengajaran bahasa asing. Prinsip yang dijadikan landasan dalam metode ini adalah bahwa penguasaan bahasa asing yang dipelajari itu dapat dicapai dengan jalan latihan-latihan terjemahan dari bahasa yang diajarkan ke dalam bahasa ibu murid atau sebaliknya. Latihan-latihan terjemahan ini merupakan latihan-latihan utama dalam metode ini

 

2.2.2 Segi-segi yang menguntungkan dalam metode ini adalah

1.      Metode ini praktis. dapat dipakai pada setiap jenis dan keadaan sekolah, tidak memerlukan banvak tenaga dan biaya. Guru yang mengajarkannya tidak perlu terlatih betul dalam bahasa yang diajarkannya itu. Guru tak perlu menguasai betul ucapan tata bahasa dan vokabuler bahasa yang diajarkannya itu. Tang perlu dikuasainya hanyalah teks yang akan dipergunakannya. Metode ini mudah dilaksanakan dan dapat dipakai dalam kelas yang jumlah muridnya besar Dalam pengajaran bahasa asing tampaknya metode ini banyak sekali terpakai, dan di Indonesia tampaknya metode ini masih banvak terpakai dewasa ini

2.      Dalam tempo yang cepat guru dapat menanamkan pengetahuan tentang kata-kata.
Hal ini dimungkinkan oleh pemakaian bahasa ibu murid dalam hampir setiap situasi pengajaran. Dengan jalan memberikan terjemahan. memberikan penjelasan-perjelasan dan batasan-batasan dalam bahasa ibu murid tentang bahan yang diajarkan itu dapatlah dihindarkan pemborosan waktu dan tenaga yang tak perlu

3.      Pembelajar dapat segera menguasai arti kata-kata yang diajarkan dan kebingungan pembelajar terhadap arti kata-kata dan aturan-aturan tata bahasanya dapat dicegah. Oleh karena latihan membandingkan kedua bahasa itu. maka kesalahan-kesalahan pemakaian bahasa bagi pembelajar dapat dihindari.

2.2.3 Kelemahan-kelemalian yang terdapat dalam metode ini adalah sebagai berikut :

1.       Tujuan yang dapat dicapai hanya terbatas pada pengetahuan kata-kata dan aturan aturan tata bahasanya, dan membaca, walaupun yang terakhir ini membaca yang dapat digolongkan kepada membaca yang kurang baik. Kemampuan mengarang dan berbicara tidak dapat dicapai dengan sebaik-baiknya.

2.       Untuk mencapai pengetahuan dan penguasaan kata-kata media yang dipakainya kurang sempurna. Tak ada kata-kata atau ungkapan-ungakapan yang terdapat dalam suatu bahasa tersedia ekivalennya yang persis sama dengan bahasa lain. Cara mempelajari kata-kata yang terbaik adalah melihatnya dalam konteks pemakaiannya. Pengertian kata-kata yang sesungguhnya hanya dapat diperoleh dengan jalan rnemperluas pengaiaman dalam bahasa itu. Kata-kata selalu mempunyai nilai tertentu dalam setiap pemakaiannya. Pengertian kata- kata yang sesungguhnya hanya dapat diperoleh dengan jalan memperluas pengaiaman dalam bahasa itu. Kata-kata selalu mempunyai nilai tertentu dalam setiap pemakaiannya. Kata-kata hanya mempunyai satu arti tertentu dalam setiap pemakaiannya, Ikatan yang timbul antara kata-kata bahasa itu dan bahasa ibu berkat latihan-latihan terjemahan itu pada hakekatnya bukanlah suatu keuntungan, sebab jika menggunakan bahasa dari itu mereka selalu akan teringat akan hubungannya dengan bahasa ibunya. Dengan demikian hubungan itu pada hakekatnya hanya merupakan halangan bagi kelancaran dalam menggunakan bahasa baru itu.

3.       Walaupun untuk penguasaan bahasa pasif, keuntungan langsung yang diperoleh dari pemakaian metode ini sesungguhnya tidak ada, oleh karena kebiasaan menterjemahkan kata demi kata merupakan penghalang bagi usaha menangkap pengertian yang terkandung dalam kelompok kata. Menangkap pengertian yang terkandung dalam kelompok kata merupakan hal yang sangat penting dalam perbuatan membaca yang baik.

4.       Oleh karena waktu yang terbanyak dipergunakan adalah untuk latihan-latihan terjemahan, maka waktu yang dapat dipakai untuk latihan-latihan kemampuan berbicara menjadi terbatas sekali.

 

 

5.       Pencampuradukan pemakaian bahasa baru dengan bahasa ibu selalu akibatnya kurang baik, oleh karena pikiran menjadi ragu-ragu kalau ada suatu waktu harus dipindahkan menggunakan bahasa yang satu ke bahasa yang lain. Hal seperti inipun akan terjadi, walapun kedua bahasa itu sudah dikuasai dengan baik.

6.       Bagi pembelajar mengemukakan pikiran dalam bahasa ibu lebih mudah terasa daripada dalam bahasa baru yang dipelajarinya. Jika pengajar terlalu membiarkan pembelajar menggunakan bahasa ibunya, kemauannya menggunakan bahasa baru akan menjadi kurang karena bahasa baru itu terasa sukar baginya, walaupun pembicaraannya itu masih dalam batas-batas vokabuler yang telah diketahuinya.

7.       Pada kelas-kelas yang lebih tinggi tujuan pelajaran sering berpindah kepada terjemahan itu sendiri. Pada kelas-kelas permulaan hal ini hams dicegah oleh karena untuk dapat melakukan terjemahan-terjemahan itu diperlukan penguasaan bahasa,

8.      Metode terjemahan merupakan penghalang bagi latihan-latihan berbicara dan latihan latihan kebiasaan membaca yang baik

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

            Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil dari pembahasan tersebut  yaitu

  • Bahwa Tatabahasa merupakan ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang mengatur penggunaan bahasa dan juga merupakan suatu himpunan dari patokan-patokan umum berdasarkan struktur bahasa.
  • Metode Terjemahan merupakan metode yang banyak dipakai dalam pengajaran bahasa asing. Dimana dalam hal ini  dijadikan sebagai  landasan untuk penguasaan bahasa asing yang dipelajari, yang nantinya dapat dicapai dengan jalan latihan-latihan terjemahan dari bahasa yang diajarkan ke dalam bahasa ibu atau sebaliknya.

 

3.2 Saran

      Dengan kita mengetahui Metode Tata Bahasa dan Terjamah hendaknya kita bisa mempersiapkan diri untuk mengunakan metode ini di dalam peruses belajar mengajar sebagai seorang calon guru.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://massofa.wordpress.com/2008/06/29/metode-terjemahan-dalam-pengajaran-bahasa/

http://holly666artemiszta.blogspot.com/2012/06/tata-bahasa-dan-penjelasannya.html

http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_ARAB/195105081980031-A._SUHERMAN/POWER_POINT/METOD_AJARAN.pdf

 

Komentar ditutup.